Minggu, 13 Mei 2012

Catatan Budaya Bersama Bustan Basir Maras


Home » Esay » Catatan Budaya Bersama Bustan Basir Maras

Kau yang Me-ruang dan Me-waktu

Oleh: Matroni el-Moezany*

Pada malam yang tertanggal 30 September 2011, saya dan F. Rizal Alief datang ke acara teater ESKA di kedai Nagata Nologaten, dan kebetulan acara malam itu adalah pembacaan puisi dan bincang-bincang sastra dan kebetulan juga pembicaranya Bustan Basir Maras yang saya kenal baik, ramah dan sederhana.

Malam itu banyak penyair mudah yang datang untuk membacakan puisinya, salah satunya Andi Magadhon, F. Rizal Alief, Bernando J. Sujibto, Ahmad Kekal Hamdani, Kedung Darma Romansa Selendang Sulaiman, dan sesepu juga ikut menyertai seperti Joni Ariadinata dan Hamdi Salad dan banyak sekali yang meramaikan kedai Nagata untuk membaca puisi. Di samping saya ada Andi Magadhon yang berbisik nanti kalau mau membaca puisi jangan membawa teks, tapi bacalah puisi dari hati. Aku juga berbisik mulai tadi betapa banyak sejarah yang tercatat, karena puisi dengan sendiri juga menciptakan sejarah. Bahkan Gus Dur pernah berkata bahwa pemegang sejarah yang sebenarnya adalah para seniman dan para penyair.

Sebab sejarawan tidak akan mampu meneliti apa yang tercatat dalam puisi. Sejarawan akan menghasilkan teori sejarah jika sejarawan itu meneliti data-data yang sudah ada, sementara puisi adalah melahirkan data-data baru. Makanya tidak heran kalau Bustan malam itu mengatakan bahwa puisi sungguh rumit dan sulit diilmiahkan apalagi mau di kaji dari kacamata teori akademik yang jauh tertinggal dari perkembangan masyarakat.

Yang saya ingin sampaikan dari catatan budaya ini sebenarnya bahwa Yogyakarta terutama yang dibahas malam itu adalah Malioboro yang dulu banyak melahirkan penyair-penyair besar, kini mulai menjadi polemik yang harus dipertanyakan. Dan sudah sepantasnya Malioboro berubah dari masa ke masa. Ada salah satu pertanyaan malam itu apakah Malioboro sekarang akan mampu melahirkan penyair besar seperti yang tercatat di sejarah Malioboro itu sendiri? Ketika Malioboro bukan lagi tempat untuk kumpul para sastrawan, akan tetapi tempat berkumpulnya para kapitalis? Jawaban Bustan adalah masih bisa dan mampu tergantung kalian dan itu adalah pilihan. Di Malioboro masih ada ruang untuk menciptakan penyair, jam 12 malam ke belakang mungkin lebih efektik untuk menghisap inspirasi. Tapi masalahnya konteks Malioboro sekarang dengan dulu memang jauh berbeda. Dan itu memang harus demikian, dan penyair harus memiliki ruang tersendiri untuk melahirkan puisi-puisinya.

Malioboro sejak dulu memang menjadi bengkel dan rahim dari penyair besar Indonesia. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mampukah Malioboro sekarang juga mampu melahirkan Penyair besar? Kiranya jawaban itu akan terjawab oleh waktu dan bukti sejarah serta ruang dialektika yang terus berjalan. Kalau waktu akan menjawab lain, bukan berarti Malioboro tidak mampu melahirkan penyair besar, bisa saja penyairnya sendiri tidak konsisten dan tidak mampu bertahan di ruang kepenyairan. Karena malam itu ada sebagian yang berkata setiap kita tidak harus menjadi penyair selamanya. Kita menjadi penyair cukup hanya dua atau tiga bulan setelah selesai. Lagi-lagi ini sebuah pilihan kata Bustan. Entah apa yang dimaksud dengan
pilihan itu sendiri. Karena ketika kita tidak memilih apa-apa justeru itu juga menjadi pilihan.

Terakhir, kata Bustan ayo kita terus menulis puisi. Roh kepenyairan akan selalu ada dalam diri penyair, jika roh itu hilang, maka kepenyairan itu sudah hilang, jadi hanya berwaktu kepenyairan itu. Tapi bagi saya penyair bukanlah penyair yang berwaktu, yang hanya dua atau tiga bulan menjadi penyair, akan kepenyairan adalah keselaluan untuk berjuang menciptakan alam ini menjadi damai. Ikut memelihara alam dari kerusakan tangan-tangan kapital. Penyair besar adalah dia yang konsisten di ruangnya. Maka untuk mencapai kesuksesan kepenyairan bersama adalah bersama-sama berjuang dalam merawat manusia dan alam ini. Rendra saya kira terlambat menciptakan puisi untuk kembali pada alam. Rendra terlalu hanyut di sosialnya. Maka penyair carilah ruang yang sekiranya memiliki manfaat untuk dirinya sendiri dan orang lain. Yang jelas adalah alam. Alam yang kini mulai di rusak, ini butuh penyair untuk membantu dalam mendamaikan, maka bukan waktunya kita berpuisi langit dan anggur. Kini saatnya kita berpuisi untuk alam dan kembali pada alam.

*Penyair



                    

0 komentar:

Poskan Komentar