Jumat, 30 November 2012

Sebab Puisi, Selendang Bersitegang



 
Lelaki yang akrab dengan sebutan “selendang” itu, tertegun setelah membacakan puisinya di tengah lingkaran perkumpulan orang-orang malas di kota para penulis dan kota Gudeg itu. Tepuk tangan dan sorak sorai begitu kerap sahut menyahut menyambut suara khasnya ketika membacakan puisinya. Tetapi, saat itu lain dari biasanya selendang baca puisi. Suasananya  berbeda, hidup dan tegang dengan moment puitik dari bait-bait sajak yang disyairkan. Sudah sejak sebelum ia bersiap diri dipanggil oleh pembawa acara, raut wajahnya kian gelap di tengah cahaya yang tamaram dengan hanya beberapa nyala lilin.
Kini, lebih lagi setelah acara GASEBU ‘garda seni dan budaya’ selesai, acara yang di adakan oleh orang-orang malas yang kerjanya jagongan dari warung kopi yang satu ke warung kopi yang lain di kota yang istimewa ini. Selendang tampak kian larut saja dalam gelisahnya, terlihat dari kerut dahinya, ia sedang memikirkan sesuatu yang bergejolak dalam hati dan batinnya. Entah gerangan apa yang telah menjadikan persoalan dalam diri selendang, sehingga menjadi semurung malam itu.
   Aura lesu di wajah selendang masih juga tergambar, seperti ada persoalan di kepalanya, sampai pada sore besok harinya setelah baca puisi.
“orang-orang banyak bertanya padaku, tentang Pini, perihal perempuan jadah dan janda kembang itu. Perempuan tegar yang sanggup menghidupi dirinya sendiri dengan kerja kerasnyanya yang tidak pernah surut sebagai penjual buku di event-event besar bazar atau gerebeg buku di berbagai kota di negeri ini.Tuturnya pada mahrus yang juga selevel dengan Pini.
Alah kau itu,bung! Sudahlah, tak usah kau risau dengan desas desus di luar itu!” Tukas Mahrus ringan, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Bukan sebab desas-desus yang kau maksud, yang aku risaukan sekarang. Hanya saja, aku risih jika Pini selalu saja menjadi bahan perbincangan di warung-warung kopi. Padahal, Pini tidak bersalah sama sekali”
“Lantas apa hubungannya dengan kamu?” Tanya Mahrus sambil tertawa kecil.
“Kau sudah tahu sendiri sob, antara aku, kau, dan Pini masih ada ikatan keluarga, bukan!”
“Ya, aku tahu betul itu. Terus apa yang membuatmu serisau itu?” pertanyaan Mahrus semakin menukik pada Selendang. Sebatang rokok ia sulut lagi. Seruput demi seruput telah mempertampak dasar dedak kopi di cangkir yang ia pegang. Selendang terdiam sejenak sambil memutar-mutar rokok di jari jemarinya.
“Begini sob, semalam pamanku nanya padaku perihal acara tasyakkuran yang akan dilaksanakan oleh Rojali...” Mahrus manggut-manggut saja sambil menghisap asap rokok dalam-dalam, pun selendang menyulut batang rokok, dan “...dan kabarnya, Riki juga akan mengadakan tasyakkuran yang sama di lain waktu yang dekat ini” selendang mengutarakan benih-benih risau di kepalanya .
“Terus, terus bagaimana selanjutnya?”
“Kau itu pura-pura tidak tahu atau mau mengujiku?”
“Benar, aku memang tidak tahu dan sengaja tidak ingin tahu!”
“Ya, bukan maksud aku ingin mengajakmu untuk memikirkan persoalan keluarga yang disana itu. Aku hanya ingin berbagi resah padamu. Syukur kalau kau sudi mendengarnya.”
“Lalu, apa yang bisa kau perbuat dalam kereshanmu itu?”
“Bikin puisi dan membacakannya, lagi pula tidak ada baiknya terlalu ikut campur persoalan orang lain”
            Lalu, mahrus tak mengubris lagi, Selendang juga melamun lagi. Percekapanpun mengalir kembali bersama puisi yang dibacakan Selendang tadi malam.

Yogyakarta, Juni 2011



Sebab Status Menyerupai Patahan Sajak




“Serupa pintu yang menyimpan deritnya, begitulah semestinya cinta di-sajak-kan.”

Setelah matahari menutup jendela para pekerja siang hari, Sri menulis Status (senyum)-nya. Di tempat yang diam-diam menggerakkan roda-roda karat di kepala Selendang Hitam Berdarah, kata-kata bermain di atas meja bersama cangkir-cangkir. Ia menjadi pertanyaan Selendang pada Sri: 

“sudah berapa kali jatuh cinta ir...”

Barangkali, Sri sedang mengupas buah mangga muda, hawanya terasa kecut. Sembari ia bergumam di bibir pisau, “serupa Selendang motif batik yang kucari-cari di beringharjo, begitu susahnya mencari kualitas nomor satu, tapi ternyata Sumbi memang benar-benar nyata, ir. maukah kamu mencuri selendangnya untukku?” Ternyata, Sri juga meminta sesuatu pada yang entah di dalam buah mangga yang masih bayi.

“sumbi itu hanya hayalanmu saja ir... dia itu hantu...”

tiba-tiba, Selendang Hitam Berdarah berbisik pada selendangnya. Selendangnya terbang menjadi buah mangga yang ranum, aromanya terasa manis. Dengan cepat tanpa siasat dan aba-aba, Sri melepaskan pisau dan buah mangga muda yang di kupasnya. Dia membujuk angin petang yang lembab, “masuklah ke dalam kamarmu, kunci pintu rapat-rapat, lalu, lalu ia akan datang dan terselip di buku-buku catatan harianmu. tengoklah bila tak percaya.”

Dia serupa memaksa.

“tidak ada, catatan harianku itu bukan hayalan orang-orang pecandu tubuh batu dan gelap. di catatanku penuh dengan kebusukan hidup yang dipoles dengan kepura-puraan. tawa bahak yang bising di gedung teater, dan di panggung-panggung puisi yang menyesatkan pembaca yang budiman,”

serupa khotbah di kali gajah wong kotor di musim kemarau Selendang Hitam Berdarah bicara dengan kukunya. 

Hingga akhirnya, Shohifur Ridho Ilahi tertawa, “hahahaha, begitukah, ir? hem.” dan entah dia sudah menangkap buah mangga manis yang terbang di udara sebelum malam benar-benar gelap?

Entahlah.

Blandongan, 4 Oktober 2012

ISP (Issue Seputar Perasaan/PEMILWA)




 Barangkali yang disebut Black Hole menjelang pecahnya kekaisaran Romawi tak jauh beda dengan keadaan Organisasi Gerakan di kamps UIN SUKA Jogja Akhir-akhir ini. dimana setiap perisiwa tidak lepas dari moment politik yang dipolitisir demi mencapai hasrat untuk berkuasa. Pertemuan demi pertemuan yang dibungkus dengan bahasa-bahasa gombal akan menjadi pertemuan awal dan menjadi peristiwa beruntun yang tanpa ujung pangkal. Target dan tujuannya tak lain tak bukan adalah kekuasaan semata. Sebagaimana sejak mula asal peradaban manusia hingga sampai detik ini bahkan besok dan selanjutnya sampai pada batas akhir masa.
Messiah atau Dajjal akan tertawa dengan yang telah terjadi di muka bumi yang di aktori oleh manusia-manusia yang tenggelam dalam lautan ambisi berkuasa. Perebutan untuk melegalkan adanya kuasanya makna akan membopong manusia pada medan perang yang akan menumpahkan banjir darah sanak saudara yang tidak tahu apa-apa, bahkan nyawa-nyawa tak berdosa tentu terkapar di jalan-jalan.
 Tetapi, siapa yang mampu berpaling dari kenyataan hidup yang harus dijalani keberadaannya. Perang seolah menjadi keniscayaan dalam perjalanan ini dalam peradaban manusia. Misalnya dalam sebuah negara kecil saja di Kampus UIN SUKA ini, orang-orang yang terbuai dengan kekuasaan dan memang haus akan adanya kuasa makna, telah mengorbankan idealismenya yang mengatasnamakan penyambung lidah rakyat. Padahal sebenarnya tidak paham untuk rakyat yang mana perjuangan itu digalakkan.
Ironisnya, mereka-mereka hanya beromantisme di warung-warung kopi dengan memperbincangkan persoalan: negara yang kacau balaulah, pemerintah yang tidak becuslah, rakyat kecil kian tertindaslah, mahasiswa yang kuliah setiap hari dianggap sebagai babu dosennyalah, dan mereka yang pandai bergosip di warung kopi berikrar bahwa merekalah yang akan jadi super-hero di negara ini untuk membasmi orang-orang jahat (wiro saleng kale...).
 Inilah bukti bahwa tak ada aktivis sejati hari ini. Entah sejatinya. Tetapi yang terjadi memang mayoritas seperti itu. bahasa aktivis haya dijadikan alat untuk membenarkan bahwa mereka bukan mahasiswa yang nakal masu kuliah dan merekalah yang berjuang untuk mensejahterakan rakyat. Ah, gombal sekali bahasa itu. Omong kosong, wong kenyataannya mereka tidak mampu mensejahterakan dirinya sendiri dengan peluh kuningnya sendiri.
Lantas apa yang membuat mereka bertahan dengan bahasa aktivis yang disakralkan? Jawabnya adalah dengan menggadaikan idealisme, berorasi kesana kemari untuk menyatakan bahwa merekalah golongan mahasiswa yang sadar bahwa merakalah agen perubahan, yang tujuannya untuk menipu mahasiswa biar mendukung mereka dan tercapailah cita-cita besar mereka, yakni memepertahankan kuasa makna di kampus putih; KAMPUS RAKYAT; Kampus Perlawanan?.
 Ingatlah satu hal, bahwa kalian atau diri saya sendiri adalah bagian dari rakyat kecil yang harus berjuang untuk bertahan hidup dengan memeras keringat yang berkarat. bukan menguasai aset ekonomi kampus yang hal itu adalah hak seluruh mahasiwa dari sabang sampai merauke (bukan kecuali timur-timur, haha). Ingatlah bahwa berokrasi mahasiswa di kampus merupakan lidah seluruh mahasiswa yang menitipkan cita-citanya pada kalian hai sahabat-sahabatku (tanpa kalianpun, mahasiswa mahasiswi yang lugu itu masih sanggup mencapai impiannya tampa  kalian)!!!

Yogyakarta, 2009

Suatu siang di Blandongan


Suatu siang di Blandongan

Seorang teman bertanya padaku siang itu di bangku di bawah pohon ketapang. “kalau duitmu tinggal seribu rupiah, apa yang akan kamu lakukan; beli rokok atau buat beli kopi?”.
Aku yang terbiasa pergi ke warung kopi sesuka hati menjawab, “duit seribu disaku akan aku kasihkan pada yang membutuhkan. Duit seribu hanya cukup untuk beli sebatang rokok, dan akan berarti lebih buat yang butuh kurang dari seribu.”
“Bagaimana dengan dirimu, jika duit seribu itu dikasihkan pada orang lain. Padahal kamu butuh rokok dan kopi?” tanya temanku lagi.
“”aku akan pergi kesini, ke warung kopi ini meski dengan tanpa duit seribu,” jawabnya tenang-tenang saja.
“Hanya datang tanpa beli kopi dan rokok?”
“Iya, datang tanpa pesan kopi dan tanpa beli rokok!” aku tersenyum dia mengernyitkan kening lalu manggut-manggut.
“Hanya duduk disini?” tanyanya penasaran
“Iya hanya duduk. Duduk di bangku yang diduduki seorang teman yang aku kenal!”
“Jika tak ada temanmu sama sekali?”
“Sudah tentu ada, kapan saja aku mau kesini, mau pagi, siang, sore, malam dan kapan saja semauku.” Jawabku puas dalam ketidak puasannya bertanya.
Diapun berhenti tak bertanya lagi,
***
Di Blandongan sudah pasti ada mereka-mereka yang pernah duduk bareng dalam satu kursi panjang berhadapan dengan beberapa cangkir dan gelas serta rokok dalam bungkusan yang tidak cukup untuk masing-masing orang. Berarti menyeduh kopi dalam cangkir yang sama bergiliran.
Selain duduk santai menikmati kopi yang masih hangat, percakapan ringan bahkan yang berat sekalipun mencair dari bibir-bibir yang mengepulkan asap rokok, menggelinding di atas meja dan hilang ke bawah kursi. Berdiskusi tentang apa saja, bertukar ikiran persoalan teori-teori dan ajaran-ajaran nenek moyang. Pun tidak jarang juga jatuh dalam pembahasan merumus-rumuskan sesuatu.
Begitulah kebiasaan orang-orang yang bertandang di Blandongan. Semisal begini:
“Jika aku bertanya begini, jikalau dirimu tidak diperlakukan adil, apa yang akan kamu lakukan?” seorang teman yang terbiasa mengkritikku bertanya di antara kami yang duduk santai siang itu di bawah pohon ketapang.
“Membangkang!” jawabku.
“Kamu?” dia menunjuk pada teman di sampingku.
“Melawan!” jawabnya penuh ragu.
“Boleh, dan jika kau tidak diperlakukan baik, apa yang akan kalian lakukan?” Tanyanya lagi sambil menelan asap rokok yang baru saja dihisapnya.
“Melawan!” jawab teman disampingku lagi.
“Membangkang!” Jawabku seperti yang pertama.
“Jawaban yang serupa!” Tegasnya, sambil mencari-cari pertanyaan lain yang digelisahkan sebelum berangkat ke sini dan duduk berhadapan denganku.

_28 Desember 2011

Selasa, 27 November 2012

Lebah Putih


Sajak Pablo Neruda

Lebah putih, kau mendengung di jiwaku, mabuk madu,
angin kibasan sayapmu melingkarkan asap perlahan.

Akulah dia yang tak berharapan, kata tanpa suara gema.
Akulah dia yang kehilangan, dan mendapatkan segalanya.

Pada tambang kapal penghabisan, berderit rinduku.
Pulauku kering, kau di sana bunga mawar terakhirku.

Ah, engkau. Engkau yang bergeming diam.

Biarkan ceruk matamu mengatup. Di sana malam gugup.
Ah tubuhmu, patung yang ketakutan. Sempurna telanjang.

Matamu, mata yang dalam, di mana melecut malam.
Lengan dingin bunga-bunga, dan selingkar mawar.

Ah, engkau. Engkau yang bergeming diam.

Ada kesunyian itu, tersebab engkau tak ada.
Hujan turun. Angin laut memburu camar tersasar.

Maka tampak payudaramu bagai siput putih.
Kupu-kupu bayang singgah tidur di perutmu.

Di jalanan basah, air melangkah dengan kaki telanjang.
Di pohon itu, dedaunan demam menggerutu.

Lebah putih, ketika kau tak ada pun, kau berdengung di jiwaku
Dalam waktu kau hadir lagi, tak kasat mata, tak bersuara.

Ah, engkau. Engkau yang bergeming diam.

Pada Sebuah Senja di Langitku


Sajak Pablo Neruda

* Sajak ini adalah parafrase dari sajak ke-30 dalam Buku
Penjaga Taman (The Gardener) karya Rabindranath Tagore.

Pada sebuah senja, di langitku, kau menjelma jadi awan
aku jatuh cinta tersebab bentuk dan warna-warnamu itu.
Engkau milikku, milikku, perempuan berbibir madu
dan dalam hidupmu, mimpi-mimpiku tak mati-mati.

Nyala pelita di jiwaku membasuh kedua kakimu,
Anggurku yang masam, terasa lebih manis di bibirmu,
Lagu pujian malamku, seluruhnya hanya bagimu,
O betapa ada satu mimpi: meyakini kau jadi milikku!

Kau milikku. Milikku. Kuteriakkan pada angin petang,
dan angin pun menghela suaraku nelangsa di pundaknya.
Pemburu kedalaman mataku, engkau si perampas
sebab masih saja naluri malammu mengira ia telaga.

Kau terperangkap dalam jaring musikku, Sayangku,
dan perangkap musikku itu meluas seluas angkasa.
Jiwaku lahir pada pantai perkabungan di matamu.
Di mata berkabungmu itu, negeri mimpi memulai diri.

Tubuhnya: Tubuh Seorang Perempuan


Sajak Pablo Neruda

Tubuh seorang perempuan, putih pebukitan, putih dua paha,
Engkau tampak bagai dunia, pada pasrah menghampar.
Tubuh jumudku, akulah petani menggali pada tubuhmu
lalu kuciptakan anak berlompatan dari kedalaman bumi.

Aku sendiri bagai terowongan. Burung-burung berhamburan,
dan malam membanjiriku dengan invasi, sebenar serangan.
Aku bertahan, aku menempamu jadi serupa hunus senjata,
seperti panah di busurku, sebongkah batu dalam tali umban.

Tapi saat pembalasan dendam luruh, maka kucintai engkau.
Tubuhmu: kulit, lumut, desak hasrat, susu yang memadu.
O, gelas piala payudara. O, mata yang nyimpan ketiadaan!
O, mawar pinka di pupumu. O, suaramu, hanya bisik berduka.

Tubuh seorang perempuan. Aku bertahan dalam semarakmu.
Haus rasaku, tak berbatas hasratku, tak berujung jalanku.
Sungai bertebing gelap, di sana mengalir haus yang kekal
dan rasa letih menyusul. Lalu pedih yang terus berterusan.

Nyanyian Putus Harapan


Sajak Pablo Neruda

Kenangan tentangmu bangkit dari malam seputarku.
Sungai membaurkan keluh kesahnya dengan laut.

Tinggal sunyi sendiri, bagai para liliput di fajar hari.
Ini jam bagi keberangkatan, O aku yang tinggal sepi.

Bungkul kuntum bunga beku menghujani hatiku.
O lorong runtuh, puing berkeping kapal karam.

Padamu yang perang dan yang terbang tersatu.
Darimu sayap-sayap pada lagu burung terbangkit.

Engkau menelan habis segalanya, seperti jarak.
Seperti laut, seperti waktu. Padamu segala terbenam!

Ini saatnya, waktu yang leluasa menyerang dan mengecup.
Waktu untuk mengeja apa yang berkobar: rumah cahaya.

Ketakutan penerbang pesawat, kegeraman pengemudi buta.
gerak acak Cinta yang mabuk. Padamu segala terbenam!

Di masa kanak kabut jiwaku, bersayap dan terluka.
Penjelajah pun tersesat. Padamu segala terbenam!

Maka kugambar lagi, kubangun dinding bayang,
antara bertindak dan angan, kaki kulangkahkan.

Oh daging, dagingku sendiri, perempuan terkasih yang hilang,
Aku memanggilmu di jam basah, kuteriakkan lagu bagimu.

Seperti guci, engkau berumah di kerapuhan tak hingga.
dan melupa yang tak hingga menghancurmu seperti guci.

Ada kesunyian pulau-pulau yang hitam. Dan di
sana, perempuan dengan cinta, tanganmu meraihku.

Ada rasa haus dan lapar, dan engkaulah buah-buahan.
Ada batu nisan dan reruntuhan, dan engkau keajaiban.

Ah perempuan, tak tahu aku, bagaimana kau mengisiku,
di bumi jiwamu, di dekap rengkuhnya kedua lenganmu.

Dahsyat dan ganasnya, angan inginku menuju engkau,
Betapa sulit dan kepayang, betapa keras dan keranjingan

Makam-makam kecupan, masih ada api di kuburmu,
masih ada buah terbakar, dipatuk-patuki burung.

Pada mulut yang tergigit, cabang-cabang terkecup,
pada geligi yang lapar, pada tubuh-tubuh terlilitkan.

Oh sepasang kegilaan: harapan dan kekuatan,
di mana kita bersatu menyatu lalu dikecewakan.

Dan kelembutan itu, sinar adalah air dan serbuk.
Dan kata-kata mencekam, mulai ada di bibir.

Inilah takdirku dan perjalananku, dan kerinduanku
dan ketika rindu menimpa, padamu segala terbenam!

O puing-puing reruntuhan, semua jatuh menimpamu,
derita yang tak kauucap, derita yang tak kau genangkan.

Dari gelombang ke gelombang masih kau seru berlagu
Berdiri tegak seperti pelaut di haluan kapal.

Engkau masih mekar dalam lagu, menunggangi arus.
O puing retuntuhan, membuka sumur yang empedu.

Si pengendara yang rabun, penyandang tanpa keberuntungan
si pencari jejak yang sesat. Padamu segala terbenam!

Ini saatnya keberangkatan, saat yang keras membeku
Malam yang dipercepat pada setiap jadwal-jadwal.

Debar sabuk-sabuk samudera membebat pantai
Bintang yang beku memberat, burung hitam beranjak.

Tertinggal sunyi sendiri, seperti dermaga di fajar hari,
Hanya ada bayang gemetar meliuk di dua tanganku
.
O jauh dari segala, O terpencil dari segala.
Ini saatnya berangkat. O seorang telah disiakan!

Puisi Pablo Neruda




aku bisa saja menulis puisi paling sedih malam ini

aku bisa saja menulis puisi paling sedih malam ini.

misalnya, menulis: “malam penuh bintang,
dan bintang bintang itu, biru, menggigil di kejauhan.”

angin malam berkelit di langit sambil bernyanyi.

aku bisa saja menulis puisi paling sedih malam ini.
aku pernah mencintainya, dan kadang-kadang dia pernah mencintaiku juga.

di malam-malam seperti ini, aku rangkul dia dalam pelukan.
aku ciumi dia berkali kali di bawah langit tak berbatas.

dia pernah mencintaiku, kadang-kadang aku pun mencintainya.
bagaimana mungkin aku tak akan mencintai matanya yang besar dan tenang itu?

aku bisa saja menulis puisi paling sedih malam ini.
kerna aku tak memilikinya. kerna aku kehilangan dia.

kerna malam begitu mencekam, begitu mencekam tanpa dirinya.
dan puisiku masuk dalam jiwa seperti embun pada rumputan.

tak apa kalau cintaku tak bisa di sini menahannya.
malam penuh bintang dan tak ada di sini dia.

begitulah. di kejauhan, seseorang menyanyi. di kejauhan.
jiwaku mati kini tanpa dia.

kerna ingin menghadirkannya di sini, mataku mencarinya.
hatiku mencarinya dan tak ada di sini dia.

malam yang itu itu juga, yang membuat putih pohonan yang itu itu juga.
kami, yang dulu satu, tak lagi satu kini.

aku tak lagi mencintainya, itu pasti, tapi betapa cintanya aku dulu padanya.
suaraku menggapai angin hanya untuk menyentuh telinganya.

milik orang lain. dia akan jadi milik orang lain. seperti dia dulu
milik ciuman ciumanku.
suaranya, tubuhnya yang kecil. matanya yang memandang jauh.

aku tak lagi mencintainya, itu pasti, tapi mungkin aku mencintainya.
cinta begitu singkat dan lupa begitu lama.

kerna di malam malam seperti ini dulu aku rangkul dia dalam pelukan,
jiwaku mati kini tanpa dirinya.

mungkin ini luka terakhir yang dibuatnya,
dan ini puisi terakhir yang kutulis untuknya.

-terjemahan Saut Situmorang,
dikopi dari: sautsitumorang.multiply.com

Minggu, 25 November 2012

Kicau Beo Selendang


Ciuman Do’amu

Kau gerai rambut malamku
Dengan kuku air di lancip jarimu
Lalu kau ciumkan Do’amu ke dadaku
Aku tergetar, kemudia terlempar

Aku tak memintamu mengalirkan ayat ilahi
Dengan bibirmu seranum buah apel
Aku hanya ingin istirah di telapak tanganmu
Namun kau suguhi aku seegelas anggur surga

Aku mabuk oleh zat rindu Sang Maha
Melantunkan mahabbah Tuhan padamu
Di Mataku kau mendekat ingin memeluk
Aku pun hanyut dalam isyarat dan tanda

“Kelak, entah di surga atau neraka cintaku-cintamu abadi”

Asrama Haji Yogyakarta, 30 April 2012



Gesekan Beo #1


beo, bisikkan kalimatku ini pada yang setia padamu,

"dalam-dalam aku meletakkan sentuhan jemari angin nafasmu
sampai di dasar di palung sepi tanpa huru burung pagi
apa kau nyaman istirah pasrah dengan denyut lukaku?"

beo,dengan senar-senarmu aku dentingkan segala bunyi
lewat bibir-bibir musim mengecup gunung, lautan biru
dari bara magma dan gelombang badai aku menjadi
hanya pada tangan yang mencipta nada di tubuhmu

beo, siramkanlah secawan anggur surga pada senarmu
dengan jari-jari dari tanganku yang gemetar dan subur
di punggung dan lehernya yang segera di pelukku

setelah pertemuan, pagi di Kebun Laras, 14 mei 2012




Gesekan Beo #2
           
mula-mula hanya daun resah disaput angin gerimis
burung beo basah di ranting yang retak dan rapuh
sayapnya tergores pun daun mengecupnya mesra

ada yang hadir rupanya,
berbisik "impian menanti kalian"

selembar ilalang di tepi jalan
melambaikan hijaunya kenangan

“beo, gerimis terasa asin dikelopak matamu”
desau angin di daun telinga beo yang sendu

Kebun Laras, 16 Mei 2012




Gesekan Beo #3

Aku melihat mata mereka
Memuntahkan kata-kata
Membakar puisi
Mengobarkan nyala;
Cintaku padamu

Ada risau cemas meremas dadanya
Menjeritkan dendam dan
Rinduku

Aku melihat kebencian di wajahnya
Aku menikmati setetes keringat
Menetas dari keningnnya
Memabukkanku
;pada puisi

Mei 2012




Gesekan Beo #4

sebuah malam sebuah ruang tamu 
sepasang lengan bersebelahan hanya lain warna
tarik menarik yang selalu gagal tergandeng
ada yang lain dari bibir kata-kata mengalir

"ah, itu hanya halusinasi mata mengantuk"
sulit dipercaya, sebab terdengar bisikan lain
dari balik pintu yang patah gagangnya
benarkah yang datang itu isyarat dan tanda?

"aku tak mau berpura-pura" kalimat itu jatuh

"baiklah" biar aku saja yang disini.

Rapuh bibirmu menetaskan sedaun pandan
“ Biar saya saja yang disini, lalu kamu disana
dan kita sama-sama tau tentang keadaan kita masing-masing”

“selalu ada tikungan pada setiap jalan yang memanjang, antara jalan-jalan kita masing-masing sudah dekat pada sebuah tikungan, tenanglah dulu tak baik tergesa-gesa, mari minum air di gayung yang sama, sembari melepas nafas lelah yang terlampau sengau, lalu kita kembali untuk sampai pada tujuan. ah, bukankah setiap jalan sudah memiliki takdir
masing-masing. hampir aku melupakannya.“

Mei 2012


Gesekan Beo #5

sejak pagi ini,
dinding yang aku susun dengan kulit-kulit terkelupas
dari bibir dan lidahku, runtuh menyentuh tanah,
menayatu pada muasal: serpihan terhempas tiupan asing.
bara yang berkobar padam terpendam hujan batu-batu
sungai tempat mengalirkan keresahan dan ketakutan
menjelma lorong sempit dan curam,
ah jadi jurang rupanya

tetapi, jalan-jalan masih banyak arahnya
tikungan-tikungan itu terlampau tajam menanti di ujung
ya, mestinya aku lari tanpa menoleh dan terus lari
sampai jalan-jalan tak memiliki tikungan tajam.
dan saat itu hanya ada satu nama, pusara milikku.

Namun sebelum kecupan menempel kening nyawaku
Akan kutulis surat cinta padanya yang memiliki bunyi
Untuk sebuah tembang kepulangan berwangi kembang kamboja

Mei 2012



Gesekan Beo #6

ada apa dengan lebah-lebah di taman itu
berkerumun semacam musyawarah genting
padahal bunga-bunga masih segar dan menawan
matakukah yang sudah suram karena madunya?

duh, lenganku berdarah lagi rupanya
nyeri tersenyum dari jarak yang tak kupahami
jarak yang tiba-tiba saja membentang usai gerimis
bermanik-manik bening di rambutnya

terbanglang jauh, terbanglah sayap-sayapku
awasi duri-duri yang menusuk lenganku
biar darah tak juga muncrat dari lengan yang lain
sebab aku sudah lemah meski berdaya atas syair

dan kata-kata serupa air, api dan angin
jauh sebelum kehadiran itu sayap-sayap sudah terbang
lebih jauh dari bayang-bayang angan sialan
tetapi kini, nyanyian sunyi mendekap sayapku

20 April – 20 Mei 2012



Gesekan Beo #7

#
tidak jarang, karena cinta
anginpun membakar cemburu
bukan main derasnya

##
semakin absurd saja kabar angin di rimbun pohon cintaku
angin dari manakah yang hendak menggugurkar daun-daun
padahal musim belum mengantar tanda dan isyarat berganti

Dunua Sunyi, Mei 2012


Gesekan Beo #8

Cintaku,
Biarkan aku belajar menjadi imammu
tuntunlah aku dengan doa-doamu
yang tak berbatas waktu
aku mencintaimu
dengan ciuman doamu

Mei 2012



Gesekan Beo #9

Hadirku kau bilang jarum jam yang patah
Menjerit di malam asing memecah lencong menara
            Sia-sia dan terserak

Di udara awan legam menyulut api di ulu gunung
Kau berteriak dari puncaknya memanggilku
yang retak yang habis terlumat pertemuan

telanjang kakiku berlari mengejar waktu
di bibir lonceng di senar-senar biola sayangmu

aku hadir saat suaramu lenyap saat lonceng
dan biolamu mengabu di udara menimbun dadaku
            yang bara

aku sendirian menggali kuburan
di tanah yang bernama kenangan
lalu malam menendangku
angin melempar kesakralan puisi
dan kata-kata berkerumun
merobek-robek seluruh hartaku

aku kalah dengan sehelai nyanyian
            biolamu

Blandongan,  16 Mei 2012



Gesekan Beo #10

bibir retak pada bibirmu yang gemetar
malam hanyalah sepi dalam kesia-sian ingin
dan angan yang meronta pada dingin
maka pada lelapmu tubuhku melembab jua

19 Mei 2012




Gesekan Beo #11

lagi,
kau tanyakan yang entah itu
apa tak kau dengar getir getar senar
yang aku petik setengah siang
pada separuh senyummu yang kaku

sayang ada yang lain

20052012-195319



Gesekan Beo #12

pada akhirnya setiap jalan hidup tak lain kematian indah ujungnya
pun cinta dan keyakinan hanya titipan Sang Maha Asmara 
menjadi wahyu di jalan-jalan malam sang penyair
bersuka ria atas lapar dan dahaga dalam senyuman liar

aku padamu sebagai penjaga ayat-ayat nurani rohaniawan
bersyair dengan kekuatan matahari dan keindahan rembulan
selebihnya sekedar menyederhanakan kehidupan yang galau
dengan cinta kasih di perlintasa musim hujan dan kemarau

dengarlah isyarat pada setiap sayatan kata-kata
kenalilah tanda di wajah-wajah tukang cerita
tanpa aku bisikkan zat-zat api, air dan angin
hidupmu atas adaku menjadi sehat lahir batin

BLD. 21 Mei 2012



Gesekan Beo #13

selain kabar dan firasat, apakah angin juga senyum?
hari-hari dan malam tak lain sebatas arah jarum jam
memutari angka-angka yang itu itu saja
sayang angka nol menjadi teramat asing
dan aku padamu ingin menjadi "nol" sayang

antara kecil dan besar sebatas perlintasan ruh
menyebrangi samudra dan dataran gersang
sepanjang perjalanan; nafas pengap di desahmu
kini yang menjadikan oase di langkah yang kesekian

Blandongan, 24 Mei 2012



Gesekan Boe #14

begitu banyak helai helai rahasia yang mangalir dari bibirmu
dan merambat ke rambutku yang patah setiap malam
atau setiap bercakap denganmu yang juga entahlah
apa kau baik baik saja usai sebisik tumpah di meja makan?

“mestntinya kau tahu tentang air mata dan diam setiap malamku.”

air mata yang kau simpan di gelas purnama telah aku teguk sebelum embun menetes menyuntuh air payau di bibirku di pipimu, dan aku telah senantiasa diam di kelam malam-malam yang kau bingkai dengan labirin legam yang rahasia. aku padamu adalah resah pucuk inai-inai pagi belia.

28 mei 2012



Gesekan Beo #15
:Agus Cassa dan Nazil Osing

air mata yang kau simpan di gelas purnama
telah aku teguk sebelum embun menetes
menyuntuh air payau di bibirku di pipimu,
dan aku telah senantiasa diam
di kelam malam-malam yang kau bingkai
dengan labirin legam yang rahasia.

aku padamu adalah resah pucuk inai-inai pagi belia.

4 juni 2012



Gesekan Boe #16

“dan pada diam aku teringat”

merah bibir remang
di antara helai helai rambut
yang tak sepat kugerai
Sebaris lipstik kau gariskan dengan bibirmu
”kau tau saja keremangan yang membuatku memerah.”

Kebun Laras, 22 mei 2012


Gesekan Beo #17

diamku itu cemas resah yang begitu nyeri
aku terlampau takut kehilangan lagi
betapa sukar untuk berkata bagi yang pergi

21052012-185547


Gesekan Beo #18

sia-sia dan terhempas
selembar pandan kupetik di sepertiga malam
sebuah bejana pecah tanpa benturan
air embun yang menahun kutadah dengan telapak
terkulai, terkecup tanah kering, resap dalam-dalam

"duh, aku hilang rupa-rupanya."

sambil mengulang tadah manampik zat kebekuan
garis pangsa menyebut dhahirnya sendiri
menyulut kembara tersandung pongahnya batu batu
tersumbat wangi pandan
ciuman patah sebelum bibir

Masya'allah,
hampir tak teraba bentur wajah rejeki-Mu

Kebun laras, 17 Mei 2012



Gesekan Beo #19

Mari bersenandung di malam
Dalam rengkuh hujan deras
Serbuan angin menampar

Mari kita bakar
Gumpalan dingin di telapak tanah
Batu-batu beku menderu rindu

Secantik jemari petir
Kita tusukkan jarum-jarum api
Di senarnya yang belia

180512.183815

Engkau hadir hujan-hujan
Dan tak kulihat bajumu basah
Payung mana menepis tetes-tempias
Di sekujur tubuhmu?

180512.185758




Gesekan Beo #20

"Ciuman Doamu"
hanya sebuah tanda yang terselip di panjang rambutku
rasaku sudah siuman dan risaumu masih kugenggam selalu
dalam setiap tetes tetes alkohol yang kering di bibirku

27 mei 2012



Gesekan Beo #21
 
anak-anak ikan meloncat-loncat dalam aquarium mataku
sisiknya menyilaukan sinar kepulangan di garis-garis air
di titik-titik beling tajam muka jendela tergetar kereta lewat
tak dirasa suara parau menghardik lantai di dasar jiwa
 
sungai bening menangkap ikan di mataku
ia lucu berwarna ungu
siripnya berbentuk bulan sabit
 
yang datang dan yang pergi adalah cinta yang sialan.
 tak ada yang wajar karenanya selain luka dan nyeri yang nikmat
 
Djogja, 13 Mei 2012



Gesekan Beo #22

 jika sesuatu dari kata yang senantiasa menetas dari jariku,
menjadikan pilar-pilar sucimu rapuh,
doakanlah kata-kata itu mati dari jariku.

19052012-231213




Gesekan Beo #23

deras sekali igau-igau di ujung bibirku
menahan yang entah aku katakan
pada yang mengasihi pemilik bunyi

19052012-233732  



Gesekan Beo #24
-pekabar dari istirah malam sujudnya

di jam jam yang jarumnya patah
malam ini kabar pun retak di ujungnya
sebagaimana kisah-kisah yang berantakan
tanpa klimaks di ujung rambutnya

Djogja, 24 Mei 2012



Gesekan Beo #25

ketika orang-orang hanya datang dan pergi
duduk untuk sekedar diam dan tertawa
lalu bicara apa saja tentang hari-hari dan malam
atau segala keindahan yang katanya tersembunyi
tanda dan isyarat dari angin meretakkan kata-kata
menjadi puisi-puisi dan bualan sialan.
lalu aku hanya akan bercerita lagi pada mereka,
tentang cinta dan perempuan yang hilang dalam ingatan.
Ahai,
aku jatuh cinta lagi,
:pada-Mu!

Yogyakarta, 23 Mei 2012



Gesekan Beo #99

sudah lama aku menunggu musim semi terjadi di tanah airku
selain kegersangan dan banjir bahkan gempa adalah aku
bencana yang meruntuhkan sendi sendi kehidupan
sebab cinta tidak hanya surga, itulah neraka

Pentasbih malam bersyair dalam doanya yang patah di jendelanya
“kini jelas sudah, keangkuhan bukanlah kesalahan yang disengaja. karena negerimu telah tumbuh seiring kelelakianmu

Kebun Laras, beberapa jam kemudian Mei 2012