Jumat, 30 November 2012

Puisi Selendang Sulaiman

Puisi Menulis Penyair
-Ode Chairil Anwar

Luka itu telah aku sempurnakan padamu
Dengan nyeri yang tumbuh di rusuk waktu
Luka itu telah aku kabarkan di telinga hutan belukar
Dengan ngiang duri-duri bibirmu yang lapar
Luka itu luka air lukamu di perut binatang buas
Merambati sungai-sungai bening mengalir pedas
Lukamu mengaum sepanjang malam
Di taring srigala berbulu embun pemburu kelam
Luka itu luka kekal untuk seribu tahun hidupmu
Dengan nyeri purnama dan anggur berdebu deru
Tanpa api ayat-ayat lidah aku berdoa senantiasa
Dan kan kubakar sedu sedan itu demi mesesta masa

Yogyakarta, April 2012  


Hikayat Ayat Penyair
-Terkenang WS. Rendra alm.

 Ayat-ayat hikayat sang hayat
Melingkar ular di lubuk mata tersayat
Huruf-huruhnya menjalma api
Menjalari sampah-sampah janji
Tetapi sepadam api
Arang tak gagal menjadi abu
Lalu yang hitam dan legam
Menjadi suara gentayangan
Dari dada gusar seorang pemimpi
Dari mulut malam bergerigi

Yogyakarta, Januari 2012

Selendang Hujan

Angin mendesir di kepala
Bisikan daun lembab dilumat bebatuan
Dari senar gitar yang putus terdenting
Bunga-bunga liar bersiul semacam luka
Sementara hujan merintik sebentar-sebentar
Menyaksikan opera langit berpesta kegelapan
Segelas puisi tumpah dari tangan gemetar
Kata-kata berserak musnah ke dalam hutan
Terasa sepoi angin datang membelai bebatuan
Dan rintik seperti jarum manusuk bunga-bunga
Yang luka meneteskan darah di kepala
Menderaskan air payau di bibir penyulam selendang

Kebun Laras, Januari 2012

Aku Berdaya Tanpa Ada Kamu

Aku berdaya tanpa ada kamu kekasih
Tetapi kelemahan besar raga-jiwaku jika kau tak ada
Benar aku cinta kamu setiap saat tanpa melihatmu
Tetapi sungguh  aku tak yakin bisa tersenyum saat kau disana
Cinta ini sudah benar bertengger di puncak gunung hati ini
Bermagma, di penuhi lempeng-lempeng rindu
Memanggil hujan dan matahari untuk kehidupan
Aku disini serupa pohon kaktus tanpa air dan sinarmu
Cintamu ini tersiksa bila tak bersamping pinggang denganmu
Akan mencari adamu untuk sekedar bertukar nafas dan mata
Aku melihatmu dari jauh dan dekat demi cinta yang aneh
Aku tidak akan pergi dari dekatmmu jika ada senyum di bibirmu
Aku datang untuk menemui kepingan hati yang sudah lengkap
Itulah hadirmu yang tepat waktu dan tak kusadari kesalahan waktuku
Begitu cinta merayap dari hutan malam menyerbuku dengan buas
Kau menjinakkannya dengan sayap-sayap embun di bulu matamu
Aku takluk pada cintamu
Takluk akan daya cintaku
Tapi aku kuasa atas cintamu
Cintaku yang mengaum srigala

G’bol, 21 April 2012

Buat Yang Seperti Menjauh

ada apa dengan lebah-lebah di taman itu
berkerumun semacam musyawarah genting
padahal bunga-bunga masih segar dan menawan
matakukah yang sudah suram karena madunya?
duh, lenganku berdarah lagi rupanya
nyeri tersenyum dari jarak yang tak kupahami
jarak yang tiba-tiba saja membentang usai gerimis
bermanik-manik bening di rambutnya
terbanglang jauh, terbanglah sayap-sayapku
awasi duri-duri yang menusuk lenganku
biar darah tak juga muncrat dari lengan yang lain
sebab aku sudah lemah meski berdaya atas syair

Kebun Laras, 21 April 2012

Buat Yang Seperti Menjauh II

sore ini aku menunggu petang dengan rambut tergerai
membawa pecahan kaca yang menggaris telapak tangan
ada isyarat tak terbaca resap menderas arus darah
sedingin pagi mengusap ubun-ubun ingatan yang retak
sungguh aku menunggu petang dengan rerindu
di tiap-tiap lembar rambutku yang kian menjarum
menusuk-nusuk penggung dan nyeri mendekap
dari segala arah mata angin; bumi dan langit

Kebun Laras, 22 April 2012

Sebab Puisi, Selendang Bersitegang



 
Lelaki yang akrab dengan sebutan “selendang” itu, tertegun setelah membacakan puisinya di tengah lingkaran perkumpulan orang-orang malas di kota para penulis dan kota Gudeg itu. Tepuk tangan dan sorak sorai begitu kerap sahut menyahut menyambut suara khasnya ketika membacakan puisinya. Tetapi, saat itu lain dari biasanya selendang baca puisi. Suasananya  berbeda, hidup dan tegang dengan moment puitik dari bait-bait sajak yang disyairkan. Sudah sejak sebelum ia bersiap diri dipanggil oleh pembawa acara, raut wajahnya kian gelap di tengah cahaya yang tamaram dengan hanya beberapa nyala lilin.
Kini, lebih lagi setelah acara GASEBU ‘garda seni dan budaya’ selesai, acara yang di adakan oleh orang-orang malas yang kerjanya jagongan dari warung kopi yang satu ke warung kopi yang lain di kota yang istimewa ini. Selendang tampak kian larut saja dalam gelisahnya, terlihat dari kerut dahinya, ia sedang memikirkan sesuatu yang bergejolak dalam hati dan batinnya. Entah gerangan apa yang telah menjadikan persoalan dalam diri selendang, sehingga menjadi semurung malam itu.
   Aura lesu di wajah selendang masih juga tergambar, seperti ada persoalan di kepalanya, sampai pada sore besok harinya setelah baca puisi.
“orang-orang banyak bertanya padaku, tentang Pini, perihal perempuan jadah dan janda kembang itu. Perempuan tegar yang sanggup menghidupi dirinya sendiri dengan kerja kerasnyanya yang tidak pernah surut sebagai penjual buku di event-event besar bazar atau gerebeg buku di berbagai kota di negeri ini.Tuturnya pada mahrus yang juga selevel dengan Pini.
Alah kau itu,bung! Sudahlah, tak usah kau risau dengan desas desus di luar itu!” Tukas Mahrus ringan, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Bukan sebab desas-desus yang kau maksud, yang aku risaukan sekarang. Hanya saja, aku risih jika Pini selalu saja menjadi bahan perbincangan di warung-warung kopi. Padahal, Pini tidak bersalah sama sekali”
“Lantas apa hubungannya dengan kamu?” Tanya Mahrus sambil tertawa kecil.
“Kau sudah tahu sendiri sob, antara aku, kau, dan Pini masih ada ikatan keluarga, bukan!”
“Ya, aku tahu betul itu. Terus apa yang membuatmu serisau itu?” pertanyaan Mahrus semakin menukik pada Selendang. Sebatang rokok ia sulut lagi. Seruput demi seruput telah mempertampak dasar dedak kopi di cangkir yang ia pegang. Selendang terdiam sejenak sambil memutar-mutar rokok di jari jemarinya.
“Begini sob, semalam pamanku nanya padaku perihal acara tasyakkuran yang akan dilaksanakan oleh Rojali...” Mahrus manggut-manggut saja sambil menghisap asap rokok dalam-dalam, pun selendang menyulut batang rokok, dan “...dan kabarnya, Riki juga akan mengadakan tasyakkuran yang sama di lain waktu yang dekat ini” selendang mengutarakan benih-benih risau di kepalanya .
“Terus, terus bagaimana selanjutnya?”
“Kau itu pura-pura tidak tahu atau mau mengujiku?”
“Benar, aku memang tidak tahu dan sengaja tidak ingin tahu!”
“Ya, bukan maksud aku ingin mengajakmu untuk memikirkan persoalan keluarga yang disana itu. Aku hanya ingin berbagi resah padamu. Syukur kalau kau sudi mendengarnya.”
“Lalu, apa yang bisa kau perbuat dalam kereshanmu itu?”
“Bikin puisi dan membacakannya, lagi pula tidak ada baiknya terlalu ikut campur persoalan orang lain”
            Lalu, mahrus tak mengubris lagi, Selendang juga melamun lagi. Percekapanpun mengalir kembali bersama puisi yang dibacakan Selendang tadi malam.

Yogyakarta, Juni 2011



Puisi Selendang Sulaiman


Batu Perahu

Jika kabar adalah isyarat maut dari yang Maha Batu
Cintaku padamu adalah Megalith Dolmen di pulah Pinang
Sabar-sabarlah dadamu mendekap ada dan tiadaku
Biarkan kesabaran yang membawa kita ke muka mahligai

Cintaku, tak usahlah kau risau oleh rerindu dan cemburu
Lihatlah dalam-dalam lubang-lubang kecil seperti dakon
Penghias raganya yang berarti ruh dan keindahan
Dan kutahu, nyeri keluhmu adalah kesetiaan yang agung
Cintaku, pagarilah jarak antara aku dan ragamu
Dengan tanaman-tanaman hias dan pohonan pinus
Meski kengerianmu akut atas kerapuhanku
Tetapi yakinlah, yang kau lihat hanyalah cinta

Kuatkanlah cintaku, sekeras Batu Perahu yang tugu
Sebagaimana rindu yang menderu di lubuk waktu
Tak akan rapuh dihantam-hantam derasnya air terjun

Yogyakarta, Juli 2012

Nyeri Itu Telah Sampai Padaku

“Pernahkah nyeri itu sampai pada hatimu,
Berbisik-bisik pada dinding nadi
Seperti yang tiba padaku kini
Begitu lirih dan halus tapi lekat pada setiap aorta darahku”

Hampir sempurna dua belas purnama tak lagi kau tanya nyeri itu kepadaku, kekasih!
Perlukah aku menanam ribuan pohon pinus membentuk lekukan pulaumu
Dengan satu jalan yang hanya menuju hati dan jantungmu?
Atau kau telah menanam impian tentang keabadian cinta yang melegenda
Dengan ilalang rindu melambai-lambai diatasnya menggapai bintang-bintang?

Tentu kau bilang itu hanya hayalan liarku atau hanya diksi dari puisi-puisiku
Tetapi tak apalah, aku mengerti maksudmu dan aku tak perlu membujukmu
Dengan sekuntum janji, kelak kita akan berbulan madu di atas Air Terjun Milang
Yang memberi arti pada jarak Merapi Selatan dan Merapi Barat yang membentang

Namun, kini aku telah melihat sesuatu yang lain dari matamu
Lain sekali, tak ada bintang yang berbinar disana, pantas aku cemburu
Suram telah menjelma labirin hitam yang menutup jalan cinta yang dulu
Apa kau masih ingat itu: candu cinta yang lahir di warung makan padang yang syahdu?

Yogyakarta, Juli 2012

Rinduku Tumpah Di Antara

Sebelum insomniamu kambuh, sayang
Tidurlah, dingin hanya larutan angin di gelas malam
Mimpi burukmu kemarin senja tak perlu kau hitung ngerinya
Di sini aku mesti menjadi malam yang gelap bersahaja
Biarlah yang lain bicara ber-empat-empat mata
Kita akan saling bertukar nafas di lirih gigil tubuh masing-masing
Sebagaimana Air Terjun Milang yang menghembuskan buih
Ke tepi-tepi yang menamakan “Lahat” kota kenangan

Yogyakarta, Juli 2012

Akhir Kemarau

Sedangkan hening mencipta dirinya di dingin daun
Bersetubuh bersama malam mataku yang coklat
Terasa lain kengerian hadir sehelai-helai.
Dan puisi masih mempertanyakan ruh jiwanya
Di dinding retak bernama luka kata-kata

Sebab ia ada di seluk-beluk pemukiman malas
Tamparan mana pantas dibalas
Jika kemarau terlampau ganas membakar?

Aku bertanya pada prasangka yang sialan
Sambil bercermin pada tebing terjal dengan air deras
Betapa hanya kengerian yang tampak
Bila terbersit tangan-tangan tambang batu bara
Digerus terus menerus tanpa rasa cinta pada alam
Hatiku terasa gempa dan pastilah runtuh
Kemesreaan tiga bukit yang mesra berpelukan

Betapa akut sedih dadaku
Jika hidung tak lagi mencium aroma durian
Yang berarti sejarah riatusan tahun biak manusia
Dan kubun kopi, padi tadah hujan serta kubun karet
Mungkin hanya akan jadi pelengkap legenda yang rumit
Sesulit menempuh medan sampai puncak kemegahan
:jalan tanah licin yang terjal dan lumpur berbatu
adalah nafas jernih kerinduan pada kelestarian alam

Kebun Laras, 16 Juli 2012


Sebab Status Menyerupai Patahan Sajak




“Serupa pintu yang menyimpan deritnya, begitulah semestinya cinta di-sajak-kan.”

Setelah matahari menutup jendela para pekerja siang hari, Sri menulis Status (senyum)-nya. Di tempat yang diam-diam menggerakkan roda-roda karat di kepala Selendang Hitam Berdarah, kata-kata bermain di atas meja bersama cangkir-cangkir. Ia menjadi pertanyaan Selendang pada Sri: 

“sudah berapa kali jatuh cinta ir...”

Barangkali, Sri sedang mengupas buah mangga muda, hawanya terasa kecut. Sembari ia bergumam di bibir pisau, “serupa Selendang motif batik yang kucari-cari di beringharjo, begitu susahnya mencari kualitas nomor satu, tapi ternyata Sumbi memang benar-benar nyata, ir. maukah kamu mencuri selendangnya untukku?” Ternyata, Sri juga meminta sesuatu pada yang entah di dalam buah mangga yang masih bayi.

“sumbi itu hanya hayalanmu saja ir... dia itu hantu...”

tiba-tiba, Selendang Hitam Berdarah berbisik pada selendangnya. Selendangnya terbang menjadi buah mangga yang ranum, aromanya terasa manis. Dengan cepat tanpa siasat dan aba-aba, Sri melepaskan pisau dan buah mangga muda yang di kupasnya. Dia membujuk angin petang yang lembab, “masuklah ke dalam kamarmu, kunci pintu rapat-rapat, lalu, lalu ia akan datang dan terselip di buku-buku catatan harianmu. tengoklah bila tak percaya.”

Dia serupa memaksa.

“tidak ada, catatan harianku itu bukan hayalan orang-orang pecandu tubuh batu dan gelap. di catatanku penuh dengan kebusukan hidup yang dipoles dengan kepura-puraan. tawa bahak yang bising di gedung teater, dan di panggung-panggung puisi yang menyesatkan pembaca yang budiman,”

serupa khotbah di kali gajah wong kotor di musim kemarau Selendang Hitam Berdarah bicara dengan kukunya. 

Hingga akhirnya, Shohifur Ridho Ilahi tertawa, “hahahaha, begitukah, ir? hem.” dan entah dia sudah menangkap buah mangga manis yang terbang di udara sebelum malam benar-benar gelap?

Entahlah.

Blandongan, 4 Oktober 2012

ISP (Issue Seputar Perasaan/PEMILWA)




 Barangkali yang disebut Black Hole menjelang pecahnya kekaisaran Romawi tak jauh beda dengan keadaan Organisasi Gerakan di kamps UIN SUKA Jogja Akhir-akhir ini. dimana setiap perisiwa tidak lepas dari moment politik yang dipolitisir demi mencapai hasrat untuk berkuasa. Pertemuan demi pertemuan yang dibungkus dengan bahasa-bahasa gombal akan menjadi pertemuan awal dan menjadi peristiwa beruntun yang tanpa ujung pangkal. Target dan tujuannya tak lain tak bukan adalah kekuasaan semata. Sebagaimana sejak mula asal peradaban manusia hingga sampai detik ini bahkan besok dan selanjutnya sampai pada batas akhir masa.
Messiah atau Dajjal akan tertawa dengan yang telah terjadi di muka bumi yang di aktori oleh manusia-manusia yang tenggelam dalam lautan ambisi berkuasa. Perebutan untuk melegalkan adanya kuasanya makna akan membopong manusia pada medan perang yang akan menumpahkan banjir darah sanak saudara yang tidak tahu apa-apa, bahkan nyawa-nyawa tak berdosa tentu terkapar di jalan-jalan.
 Tetapi, siapa yang mampu berpaling dari kenyataan hidup yang harus dijalani keberadaannya. Perang seolah menjadi keniscayaan dalam perjalanan ini dalam peradaban manusia. Misalnya dalam sebuah negara kecil saja di Kampus UIN SUKA ini, orang-orang yang terbuai dengan kekuasaan dan memang haus akan adanya kuasa makna, telah mengorbankan idealismenya yang mengatasnamakan penyambung lidah rakyat. Padahal sebenarnya tidak paham untuk rakyat yang mana perjuangan itu digalakkan.
Ironisnya, mereka-mereka hanya beromantisme di warung-warung kopi dengan memperbincangkan persoalan: negara yang kacau balaulah, pemerintah yang tidak becuslah, rakyat kecil kian tertindaslah, mahasiswa yang kuliah setiap hari dianggap sebagai babu dosennyalah, dan mereka yang pandai bergosip di warung kopi berikrar bahwa merekalah yang akan jadi super-hero di negara ini untuk membasmi orang-orang jahat (wiro saleng kale...).
 Inilah bukti bahwa tak ada aktivis sejati hari ini. Entah sejatinya. Tetapi yang terjadi memang mayoritas seperti itu. bahasa aktivis haya dijadikan alat untuk membenarkan bahwa mereka bukan mahasiswa yang nakal masu kuliah dan merekalah yang berjuang untuk mensejahterakan rakyat. Ah, gombal sekali bahasa itu. Omong kosong, wong kenyataannya mereka tidak mampu mensejahterakan dirinya sendiri dengan peluh kuningnya sendiri.
Lantas apa yang membuat mereka bertahan dengan bahasa aktivis yang disakralkan? Jawabnya adalah dengan menggadaikan idealisme, berorasi kesana kemari untuk menyatakan bahwa merekalah golongan mahasiswa yang sadar bahwa merakalah agen perubahan, yang tujuannya untuk menipu mahasiswa biar mendukung mereka dan tercapailah cita-cita besar mereka, yakni memepertahankan kuasa makna di kampus putih; KAMPUS RAKYAT; Kampus Perlawanan?.
 Ingatlah satu hal, bahwa kalian atau diri saya sendiri adalah bagian dari rakyat kecil yang harus berjuang untuk bertahan hidup dengan memeras keringat yang berkarat. bukan menguasai aset ekonomi kampus yang hal itu adalah hak seluruh mahasiwa dari sabang sampai merauke (bukan kecuali timur-timur, haha). Ingatlah bahwa berokrasi mahasiswa di kampus merupakan lidah seluruh mahasiswa yang menitipkan cita-citanya pada kalian hai sahabat-sahabatku (tanpa kalianpun, mahasiswa mahasiswi yang lugu itu masih sanggup mencapai impiannya tampa  kalian)!!!

Yogyakarta, 2009

Suatu siang di Blandongan


Suatu siang di Blandongan

Seorang teman bertanya padaku siang itu di bangku di bawah pohon ketapang. “kalau duitmu tinggal seribu rupiah, apa yang akan kamu lakukan; beli rokok atau buat beli kopi?”.
Aku yang terbiasa pergi ke warung kopi sesuka hati menjawab, “duit seribu disaku akan aku kasihkan pada yang membutuhkan. Duit seribu hanya cukup untuk beli sebatang rokok, dan akan berarti lebih buat yang butuh kurang dari seribu.”
“Bagaimana dengan dirimu, jika duit seribu itu dikasihkan pada orang lain. Padahal kamu butuh rokok dan kopi?” tanya temanku lagi.
“”aku akan pergi kesini, ke warung kopi ini meski dengan tanpa duit seribu,” jawabnya tenang-tenang saja.
“Hanya datang tanpa beli kopi dan rokok?”
“Iya, datang tanpa pesan kopi dan tanpa beli rokok!” aku tersenyum dia mengernyitkan kening lalu manggut-manggut.
“Hanya duduk disini?” tanyanya penasaran
“Iya hanya duduk. Duduk di bangku yang diduduki seorang teman yang aku kenal!”
“Jika tak ada temanmu sama sekali?”
“Sudah tentu ada, kapan saja aku mau kesini, mau pagi, siang, sore, malam dan kapan saja semauku.” Jawabku puas dalam ketidak puasannya bertanya.
Diapun berhenti tak bertanya lagi,
***
Di Blandongan sudah pasti ada mereka-mereka yang pernah duduk bareng dalam satu kursi panjang berhadapan dengan beberapa cangkir dan gelas serta rokok dalam bungkusan yang tidak cukup untuk masing-masing orang. Berarti menyeduh kopi dalam cangkir yang sama bergiliran.
Selain duduk santai menikmati kopi yang masih hangat, percakapan ringan bahkan yang berat sekalipun mencair dari bibir-bibir yang mengepulkan asap rokok, menggelinding di atas meja dan hilang ke bawah kursi. Berdiskusi tentang apa saja, bertukar ikiran persoalan teori-teori dan ajaran-ajaran nenek moyang. Pun tidak jarang juga jatuh dalam pembahasan merumus-rumuskan sesuatu.
Begitulah kebiasaan orang-orang yang bertandang di Blandongan. Semisal begini:
“Jika aku bertanya begini, jikalau dirimu tidak diperlakukan adil, apa yang akan kamu lakukan?” seorang teman yang terbiasa mengkritikku bertanya di antara kami yang duduk santai siang itu di bawah pohon ketapang.
“Membangkang!” jawabku.
“Kamu?” dia menunjuk pada teman di sampingku.
“Melawan!” jawabnya penuh ragu.
“Boleh, dan jika kau tidak diperlakukan baik, apa yang akan kalian lakukan?” Tanyanya lagi sambil menelan asap rokok yang baru saja dihisapnya.
“Melawan!” jawab teman disampingku lagi.
“Membangkang!” Jawabku seperti yang pertama.
“Jawaban yang serupa!” Tegasnya, sambil mencari-cari pertanyaan lain yang digelisahkan sebelum berangkat ke sini dan duduk berhadapan denganku.

_28 Desember 2011

Selasa, 27 November 2012

Lebah Putih


Sajak Pablo Neruda

Lebah putih, kau mendengung di jiwaku, mabuk madu,
angin kibasan sayapmu melingkarkan asap perlahan.

Akulah dia yang tak berharapan, kata tanpa suara gema.
Akulah dia yang kehilangan, dan mendapatkan segalanya.

Pada tambang kapal penghabisan, berderit rinduku.
Pulauku kering, kau di sana bunga mawar terakhirku.

Ah, engkau. Engkau yang bergeming diam.

Biarkan ceruk matamu mengatup. Di sana malam gugup.
Ah tubuhmu, patung yang ketakutan. Sempurna telanjang.

Matamu, mata yang dalam, di mana melecut malam.
Lengan dingin bunga-bunga, dan selingkar mawar.

Ah, engkau. Engkau yang bergeming diam.

Ada kesunyian itu, tersebab engkau tak ada.
Hujan turun. Angin laut memburu camar tersasar.

Maka tampak payudaramu bagai siput putih.
Kupu-kupu bayang singgah tidur di perutmu.

Di jalanan basah, air melangkah dengan kaki telanjang.
Di pohon itu, dedaunan demam menggerutu.

Lebah putih, ketika kau tak ada pun, kau berdengung di jiwaku
Dalam waktu kau hadir lagi, tak kasat mata, tak bersuara.

Ah, engkau. Engkau yang bergeming diam.

Pada Sebuah Senja di Langitku


Sajak Pablo Neruda

* Sajak ini adalah parafrase dari sajak ke-30 dalam Buku
Penjaga Taman (The Gardener) karya Rabindranath Tagore.

Pada sebuah senja, di langitku, kau menjelma jadi awan
aku jatuh cinta tersebab bentuk dan warna-warnamu itu.
Engkau milikku, milikku, perempuan berbibir madu
dan dalam hidupmu, mimpi-mimpiku tak mati-mati.

Nyala pelita di jiwaku membasuh kedua kakimu,
Anggurku yang masam, terasa lebih manis di bibirmu,
Lagu pujian malamku, seluruhnya hanya bagimu,
O betapa ada satu mimpi: meyakini kau jadi milikku!

Kau milikku. Milikku. Kuteriakkan pada angin petang,
dan angin pun menghela suaraku nelangsa di pundaknya.
Pemburu kedalaman mataku, engkau si perampas
sebab masih saja naluri malammu mengira ia telaga.

Kau terperangkap dalam jaring musikku, Sayangku,
dan perangkap musikku itu meluas seluas angkasa.
Jiwaku lahir pada pantai perkabungan di matamu.
Di mata berkabungmu itu, negeri mimpi memulai diri.

Tubuhnya: Tubuh Seorang Perempuan


Sajak Pablo Neruda

Tubuh seorang perempuan, putih pebukitan, putih dua paha,
Engkau tampak bagai dunia, pada pasrah menghampar.
Tubuh jumudku, akulah petani menggali pada tubuhmu
lalu kuciptakan anak berlompatan dari kedalaman bumi.

Aku sendiri bagai terowongan. Burung-burung berhamburan,
dan malam membanjiriku dengan invasi, sebenar serangan.
Aku bertahan, aku menempamu jadi serupa hunus senjata,
seperti panah di busurku, sebongkah batu dalam tali umban.

Tapi saat pembalasan dendam luruh, maka kucintai engkau.
Tubuhmu: kulit, lumut, desak hasrat, susu yang memadu.
O, gelas piala payudara. O, mata yang nyimpan ketiadaan!
O, mawar pinka di pupumu. O, suaramu, hanya bisik berduka.

Tubuh seorang perempuan. Aku bertahan dalam semarakmu.
Haus rasaku, tak berbatas hasratku, tak berujung jalanku.
Sungai bertebing gelap, di sana mengalir haus yang kekal
dan rasa letih menyusul. Lalu pedih yang terus berterusan.

Nyanyian Putus Harapan


Sajak Pablo Neruda

Kenangan tentangmu bangkit dari malam seputarku.
Sungai membaurkan keluh kesahnya dengan laut.

Tinggal sunyi sendiri, bagai para liliput di fajar hari.
Ini jam bagi keberangkatan, O aku yang tinggal sepi.

Bungkul kuntum bunga beku menghujani hatiku.
O lorong runtuh, puing berkeping kapal karam.

Padamu yang perang dan yang terbang tersatu.
Darimu sayap-sayap pada lagu burung terbangkit.

Engkau menelan habis segalanya, seperti jarak.
Seperti laut, seperti waktu. Padamu segala terbenam!

Ini saatnya, waktu yang leluasa menyerang dan mengecup.
Waktu untuk mengeja apa yang berkobar: rumah cahaya.

Ketakutan penerbang pesawat, kegeraman pengemudi buta.
gerak acak Cinta yang mabuk. Padamu segala terbenam!

Di masa kanak kabut jiwaku, bersayap dan terluka.
Penjelajah pun tersesat. Padamu segala terbenam!

Maka kugambar lagi, kubangun dinding bayang,
antara bertindak dan angan, kaki kulangkahkan.

Oh daging, dagingku sendiri, perempuan terkasih yang hilang,
Aku memanggilmu di jam basah, kuteriakkan lagu bagimu.

Seperti guci, engkau berumah di kerapuhan tak hingga.
dan melupa yang tak hingga menghancurmu seperti guci.

Ada kesunyian pulau-pulau yang hitam. Dan di
sana, perempuan dengan cinta, tanganmu meraihku.

Ada rasa haus dan lapar, dan engkaulah buah-buahan.
Ada batu nisan dan reruntuhan, dan engkau keajaiban.

Ah perempuan, tak tahu aku, bagaimana kau mengisiku,
di bumi jiwamu, di dekap rengkuhnya kedua lenganmu.

Dahsyat dan ganasnya, angan inginku menuju engkau,
Betapa sulit dan kepayang, betapa keras dan keranjingan

Makam-makam kecupan, masih ada api di kuburmu,
masih ada buah terbakar, dipatuk-patuki burung.

Pada mulut yang tergigit, cabang-cabang terkecup,
pada geligi yang lapar, pada tubuh-tubuh terlilitkan.

Oh sepasang kegilaan: harapan dan kekuatan,
di mana kita bersatu menyatu lalu dikecewakan.

Dan kelembutan itu, sinar adalah air dan serbuk.
Dan kata-kata mencekam, mulai ada di bibir.

Inilah takdirku dan perjalananku, dan kerinduanku
dan ketika rindu menimpa, padamu segala terbenam!

O puing-puing reruntuhan, semua jatuh menimpamu,
derita yang tak kauucap, derita yang tak kau genangkan.

Dari gelombang ke gelombang masih kau seru berlagu
Berdiri tegak seperti pelaut di haluan kapal.

Engkau masih mekar dalam lagu, menunggangi arus.
O puing retuntuhan, membuka sumur yang empedu.

Si pengendara yang rabun, penyandang tanpa keberuntungan
si pencari jejak yang sesat. Padamu segala terbenam!

Ini saatnya keberangkatan, saat yang keras membeku
Malam yang dipercepat pada setiap jadwal-jadwal.

Debar sabuk-sabuk samudera membebat pantai
Bintang yang beku memberat, burung hitam beranjak.

Tertinggal sunyi sendiri, seperti dermaga di fajar hari,
Hanya ada bayang gemetar meliuk di dua tanganku
.
O jauh dari segala, O terpencil dari segala.
Ini saatnya berangkat. O seorang telah disiakan!